Jumat, 11 Juni 2010

Rahasia dan Sejarah Hajar Aswad

Hajar Aswad adalah “batu hitam” yang terletak di sudut sebelah Tenggara Ka’bah, yaitu sudut darimana Tawaf dimulai. Hajar Aswad merupakan jenis batu ‘RUBY’ yang diturunkan Allah dari surga melalui malaikat Jibril.

Hajar Aswad terdiri dari delapan keping yang terkumpul dan diikat dengan lingkaran perak. Batu hitam itu sudah licin karena terus menerus di kecup, dicium dan diusap-usap oleh jutaan bahkan milyaran manusia sejak Nabi Adam, yaitu jamaah yang datang ke Baitullah, baik untuk haji maupun untuk tujuan Umrah. Harap dicatat bahwa panggilan Haji telah berlangsung sejak lama yaitu sejak Nabi Adam AS. Bahkan masyarakat Jahilliah yang musyrik dan menyembah berhala pun masih secara setia melayani jemaah haji yang datang tiap tahun dari berbagai belahan dunia.

Nenek moyang Rasulullah, termasuk kakeknya Abdul Muthalib adalah para ahli waris dan pengurus Ka’bah. Atau secara spesifik adalah penanggung jawab air zamzam yang selalu menjadi primadona dan incaran para jemaah haji dan para penziarah. Hadist Sahih riwayat Tarmizi dan Abdullah bin Amir bin Ash mengatakan bahwa Rasul SAW bersabda :

Satu riwayat Sahih lainnya menyatakan:
“ Rukun (HajarAswad) dan makam (Batu/Makam Ibrahim) berasal dari batu-batu ruby surga yang kalau tidak karena sentuhan dosa-dosa manusia akan dapat menyinari antara timur dan barat. Setiap orang sakit yang memegangnya akan sembuh dari sakitnya”

Hadist Sahih riwayat Imam Bathaqie dan Ibnu ‘Abas RA, bahwa Rasul SAW bersabda:
“Allah akan membangkitkan Al-Hajar (Hajar Aswad) pada hari kiamat. Ia dapat melihat dan dapat berkata. Ia akan menjadi saksi terhadap orang yang pernah memegangnya dengan ikhlas dan benar”.

Hadis Siti Aisyah RA mengatakan bahwa Rasul SAW bersabda:
“Nikmatilah (peganglah) Hajar Aswad ini sebelum diangkat (dari bumi). Ia berasal dari surga dan setiap sesuatu yang keluar dari surga akan kembali ke surga sebelum kiamat”.

Berdasarkan bunyi Hadist itulah antara lain maka setiap jamaah haji baik yang mengerti maupun tidak mengerti akan senantiasa menjadikan Hajar Aswad sebagai ‘target’ berburu …. saya harus menciumnya. Mencium Hajar Aswad!!!.
Tapi apa bisa? Dua juta jemaah, datang dimusim haji secara bersamaan dan antri untuk keperluan dan target yang sama. Begitu padatnya, maka anda harus rela dan ikhlas untuk hanya bisa memberii ‘kecupan’ jarak jauh sembari melafaskan basmalah dan takbir: Bismillah Wallahu Akbar.

Hadis tersebut mengatakan bahwa disunatkan membaca do’a ketika hendak istilam (mengusap) atau melambainya pada permulaan thawaf atau pada setiap putaran, sebagai mana, diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA. Artinya:
“Bahwa Nabi Muhammad SAW datang ke Ka’bah lalu diusapnya Hajar Aswad sambil membaca Bismillah Wallahu Akbar”.

Lanjutannya dikisahkan bahwa batu hitam tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa waktu.

RIWAYATNYA
Dalam riwayat lanjutannya bahwa batu hitam tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa lama dan secara ajaib ditemukan kembali oleh Nabi Ismail AS ketika ia berusaha mendapatkan batu tambahan untuk menutupi dinding Ka’bah yang masih sedikit kurang. Batu yang ditemukan inilah rupanya yang sedang dicari oleh Nabi Ibrahim AS, yang serta merta sangat gembira dan tak henti-hantinya menciumi batu tersebut. Bahkan, ketika sudah tiba dekat ka’bah, batu itu tak segera diletakan di tempatnya. Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS menggotong batu itu sambil memutari Ka’bah tujuh putaran.

DIANGKUT DENGAN SORBAN MUHAMMAD
Diantara peristiwa penting yang berkenaan dengan batu ini adalah yang terjadi pada tahun 16 sebelum Hijrah (606 M) yaitu ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Ka’bah. Pada saat itu hampir saja terjadi pertumpahan darah yang hebat karena sudah lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat, karena keempat kabilah dalam suku Quraisy itu terus bersitegang ngotot pada pendapat dan kehendak masing-masing siapa yang mengangkat dan meletakkan kembali batu ini ketempat semula karena pemugaran Ka’bah sudah selesai.

Akhirnya muncul usul dari Abu Umayyah bin Mughirah Al-Mukhzumi yang mengatakan
”Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk masjid pada hari ini.”

Pendapat sesepuh Quraisy Abu Umayyah ini disepakati. Dan ternyata orang pertama masuk pada hari itu adalah Muhammad bin Abdullah yang waktu itu masih berusia 35 tahun. Menjadi rahasia umum pada masa itu bahwa akhlak dan budi pekerti Muhammad telah terkenal jujur dan bersih sehingga dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya).

Muhammad muda yang organ tubuhnya yaitu HATI-nya pernah dibersihkan lewat operasi oleh Malaikat, memang sudah dikenal luas tidak pernah bohong dan tidak pernah ingkar janji. Lalu apa jawaban dan tindakan Muhammad terhadap usul itu?

Muhammad menuju tempat pernyimpanan Hajar Aswad itu lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu mulia itu ditengah-tengah sorban kemudian meminta satu orang wakil dari masing-masing kabilah yang sedang bertengkar untuk memegang sudut sorban itu dan bersama-sama menggotongnya kesudut dimana batu itu hendak diletakkan. Supaya adil, Muhammad pulalah yang memasang batu itu ketempat semula.

RAHASIA HAJAR AL-ASWAD

Kita semua tahu bahwa Hajar Aswad hanyalah batu yang tidak memberikan mudorat atau manfaat, begitu juga dengan Ka’bah, ia hanyalah bangunan yang terbuat dari batu. Akan tetapi apa yang kita lakukan dalam prosesi ibadah haji tersebut adalah sekedar mengikuti ajaran dan sunnah Nabi SAW. Jadi apa yang kita lakukan bukanlah menyembah Batu, dan tidak juga menyembah Ka’bah.

Umar bin Khatab berkata “Aku tahu bahwa kau hanyalah batu, kalaulah bukan karena aku melihat kekasihku Nabi SAW menciummu dan menyentuhmu, maka aku tidak akan menyentuhmu atau menciummu”

Allah memerintahkan kita untuk Thawaf mengelilingi Ka’bah dan Dia pula yang telah memerintahkan untuk mencium Hajar Aswad. Rasulullah juga melakukan itu semua, dan tentu saja apa yang dilakukan oleh beliau pastilah berasal dari Allah, sebagaimana yang terdapat dalam firmanNya : “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (QS. An-Najm : 53 ) “.

Hajar Aswad berasal dari surga. Batu ini pula yang menjadi fondasi pertama bangunan Ka’bah, dan ia menghitam akibat banyaknya dosa manusia yang melekat disana pada saat mereka melakukan pertaubatan. Tidakkah orang yang beriman merasa malu, jika hati mereka menghitam akibat dosa yang telah dilakukan. Rasulullah bersabda “Ketika Hajar Aswad turun, keadaannya masih putih, lebih putih dari susu, lalu ia menjadi hitam akibat dosa-dosa anak Adam (HR Tirmidzi).

sumber artikel : At-tiin Tour

Simbol Islam ?

Bulan sabit dan bintang dikenal sebagai simbol internasional bagi umat Islam, simbol ini menghiasi bendera-bendera Negara Islam, bahkan juga menjadi salah satu simbol resmi palang merah internasional.

Apakah sejarah dibalik simbol bulan sabit dan bintang?
Apakah arti simbol tersebut?
Kapankan simbol tersebut dikaitkan dengan Islam?
Apakah ini merupakan simbol yang sah untuk agama Islam?

Bulan sabit dan bintang ternyata merupakan simbol kuno yang sudah ada beberapa ribu tahun sebelum penyebaran agama Islam, asal dari simbol ini sangat sulit untuk ditentukan, tetapi beberapa sumber sepakat bahwa simbol tersebut sudah digunakan oleh bangsa-bangsa di kawasan Asia Tengah dan Siberia yang menyembah dewa matahari, bulan dan langit, bahkan simbol tersebut juga telah digunakan untuk merepresentasikan Dewi Tahit oleh bangsa Kartago atau Dewi Diana oleh bangsa Yunani.

Kota Byzantium (kemudian dikenal sebagai Konstantinopel dan Istanbul) mengadopsi bulan sabit sebagai simbol mereka, menurut beberapa laporan mereka memilih itu untuk menghormati Dewi Diana. Laporan lain mengindikasikan sejarah kalahnya tentara Romawi oleh tentara Goth pada hari pertama tahun bulan, dalam banyak hal simbol bulan sabit sudah digunakan dikota ini sebelum kelahiran Kristus.

Komunitas muslim pada awalnya tidak memiliki simbol, pada masa Rasulullah SAW tentara dan pedagang Islam hanya memiliki panji-panji dengan warna solid (biasanya hitam, hijau atau putih) untuk keperluan identifikasi. Pada generasi-generasi berikutnya pemimpin-pemimpin Islam melanjutkan penggunaan bendera berwarna hitam, putih atau hijau tanpa ada tanda, tulisan atau simbol apapun di atasnya.

Bulan sabit dan bintang berafiliasi dengan Muslim setelah Kekaisaran Ottoman (Turk) menduduki Konstantinopel pada tahun 1453, lalu mereka mengadopsi bendera dan simbol kota tersebut, Legenda mengatakan bahwa penemu Kekaisaran Ottoman, Osman bermimpi bulan sabit membentang dari sisi bumi yang satu ke sisi bumi lainnya, lalu mengambilnya sebagai pertanda baik sehingga beliau menetapkan bulan sabit sebagai simbol dinastinya, adapun tentang bintang dengan lima titik, terdapat beberapa spekulasi sebagai lima rukun Islam, namun ini hanya terkaan belaka. Bintang bukan standard bendera Ottoman. bahkan tidak standard pada bendera-bendera negara muslim yang ada saat ini.

Berabad-abad Kekaisaran Ottoman memimpin dunia muslim, pertempuran berabad-abad dengan bangsa-bangsa Kristen Eropa membuat simbol ini dikaitkan dengan Islam secara keseluruhan.

Berdasarkan sejarah banyak Muslim menolak untuk menggunakan simbol bulan sabit dan bintang sebagai simbol Islam, Agama Islam tidak memiliki simbol dan banyak yang menolak karena simbol tersebut merupakan ikon pagan kuno.

Lalu apakah simbol asli agama Islam? apakah perlu simbol dalam sebuah keimanan?.

sumber: about.com:islam

ghazwul fikr

Pengertian ghazwul fikr dapat dilihat dari segi bahasa dan segi istilah. Ghazwul secara bahasa artinya serangan, serbuan, invasi, sedangkan fikr adalah pemikiran. Sedangkan secara istilah ghazwul fikr artinya penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam guna merubah apa yang ada di dalamnya sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan darinya hal-hal yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal-hal yang bathil.


Mengapa kita harus memahami ghazwul fikr? karena ghazwul fikr itu sangat penting bagi kita kita, yaitu :

1. Mengenal musuh Islam.

2. Mengenal sarana-sarana yang dapat memukul Islam

3. Mengenal keadaan alam Islam

4. Menghindari keraguan dalam Islam.

5. Menjadikan dakwah kepada Allah dengan melihat ayat-ayat-Nya.

Adapun sasaran dari ghazwul fikr itu sendiri antara lain :

1. Menjauhkan umat Islam dari diennya / Undang-undangnya yaitu Al Quranur-karim.

2. Berusaha memasukkan orang yang kosong keislamannya kedalam aturan kafirin.

3. Memadamkan cahaya Allah.

Sedangkan metoda-metoda ghazwul fikr antara lain :

1. Membatasi supaya Islam tidak tersebar luas.

a. Tasykik (Pendangkalan/peragu-raguan), yaitu gerakan yang berupaya menciptakan keragu-raguan dan pendangkalan kaum muslimin terhadap agamanya.

b. Pencemaran/pelecehan, yaitu upaya orang kafir untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap Islam dan menggambarkan Islam secara buruk.

c. Tadhlil (penyesatan), yaitu upaya orang kafir untuk menyesatkan umat Islam dengan cara halus sampai kasar.

d. Taghrib (westernisasi), yaitu gerakan yang sasarannya untuk mengeliminasi Islam, mendorong kaum muslimin untuk menerima seluruh pemikiran dan perilaku barat.

e. Selalu membuat fitnah, supaya Dien Islam menjadi buruk citranya dihadapan manusia, Islam itu terorislah, Islam itu tradisionalis dan sebagainya, mereka lakukan dengan cara membuat tandingan kepada Islam itu sendiri, seolah-olah Islamlah yang melakukannya.

2. Menyerang Islam dari dalam

a. Penyebaran sekularisme, yaitu usaha memecahkan antara agama dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

b. Penyebaran nasionalisme, yang dapat membunuh ruh ukhuwah islamiyah.

c. Pengrusakan ahlak umat Islam terutama generasi mudanya.

Ghazwul fikr dapat menyebar melalui berbagai sarana, yang dikenal dengan 3F dan 5S, dimana 3F itu terdiri dari Food (makanan), Fun (Hiburan), Fashion (Cara berpakaian). Sedangkan 5S terdiri dari Song (lagu), Sex, Sport (olahraga), Shopping (berbelanja/konsumerisme), dan science (ilmu pengetahuan).

Ghazwul fikr dapat menyebabkan berbagai hal antara lain :

1. Umat Islam menyimpang dari Al Qur’an dan As Sunnah.

2. umat Islam menjadi minder dan rendah diri

3. umat Islam menjadi ikut-ikutan terhadap budaya orang kafir

4. umat Islam menjadi tepecah belah.

5. Ummat Islam akan menjadi phobia terhadap aturan Islam itu sendiri.











http://madinahku.blogspot.com/2008/08/ghazwul-fikr.html

PENYAKIT YANG SERING DIALAMI CEWEK

Nangisuitis

Akibat terlalu sensitif. Gejalanya bibir cemberut,mata kedip-kedip. Efek sampingnya mata bengkak, saputangan banjir, hidung meler, bawaannya ngurung diri atau terkena penyakit Curhatitis A. Penyakit ini bisa diobati dengan obat Tegaridol, OBH (Obat Berhati Hamba).

Curhatitis B

Bawaanya pengen nyerocos, Efek samping rahasia orang bisa bocor, terkena Nangisuitis,Penyakit ini bisa diarahkan positif jika ia bercuhatitisnya ke orang yang tepat, apalagi sama Tuhan.

Shooping Syndrome

Gejalanya pengen jalan mulu, mata melotot,
Efek sampingnya lidah ngiler, mulut nganga, dompet jadi tipis. Jika sudah masuk stadium 4(parah banget) dompet cowoknya ikut tipis. Coba minum hematcold atau tablet PD (Pengendalian Diri).

Cerewetisme

Lebih parah dari Curhatitis B, tidak mengandung titik koma.
Efek samping muncrat, telinga tetangga budek, dada cowoknya bisa jadi lebih halus karena sering mengelus. Lebih cepat makan pil dengar dan minum tablet bicara lebih diperlambat.

Lamanian Dandanitos

Pengennya diem depan cermin. Tangan kiri� gatel-gatel pengen pegang sisir, tangan kanan kram-kram pengen teplok-teplok pipi pake bedak.
Efek samping: menor, telat, cowoknya berkarat, gak kebagean makanan. Minum segera Sari Bawak (Bagi Waktu) dan Taperi (tambah percaya diri). Buat cowok minum Toleransikipil 230 sendok sehari sesudah dan sebelum mandi.

Cemburunotomy

Gejala muka lonjong, tangan mengepal, ali menukik. Coba cegah dengan obat sirup prasangka baik tiga sendok sehari, Pil pengertian dan tablet selidiki dahulu.

Ngambekilation

Gejala hampir sama dengan Cemburubotomy. Minum Sabaron dan Bersyukurinis.

7 Hal yg tidak bs kita rubah

Dalam hidup ini ada 7 hal yang tidak bisa kita ubah. Yaitu:

1. Jenis kelamin
Memang ada operasi untuk mengubah kelamin. Tapi tidak bisa mengubah roh (spirit) orang yang bersangkutan. Terimalah dirimu, apakah engkau wanita ataupun pria. Act like a woman/man!!

2. Orang tua.
Tidak ada yang bisa memilih dilahirkan oleh orang tua yang mana. So, you must respect your parents!! Apakah orang tuamu seorang pemabuk, penjudi, pelacur sekalipun, you must respect them!! Kalau tidak, itu akan terjadi dalam kehidupanmu nanti. Your kids won't respect you, is it terrible?

3. Hari kelahiran.
Sudah ditetapkan oleh Tuhan, sebelum dunia dijadikan. Amazing ha? But it's true. Jangan menyesali, mengapa engkau harus lahir ke dunia tapi disia-siakan oleh orang yang kau kasihi. Tuhan punya tujuan untukmu.

4. Bentuk Fisik
Kalau engkau keriting, yah keriting aja. Kalau hidungmu pesek, terima itu. Saya banyak melihat orang yang mengubah bentuk wajahnya, apakah itu memancungkan hidung, alis matanya dicukur habis, dll, jadi kelihatan aneh dan tidak natural.

5. Masa lalu.
Ini juga sudah ditetapkan oleh Tuhan. Jangan melihat ke belakang.� karena itu hanya membuat engkau "frozen" - can not do anything! Look at the future and see how good it is.

6. Kedudukan
dalam keluarga. Apakah engkau anak bungsu, sulung, atau tengah, you can not change it. Nikmati sajalah.

7. Suku bangsa/ras.
Menyesal jadi orang Indonesia yang terus menerus dilanda kesulitan? Atau menyesal jadi orang Batak yang kalau menikah perlu upacara adat yang walahhhh mahal dan lama? Atau jadi orang Cina yang suka ditindas dan diintimidasi? hmmm.....

Nah, sekarang ubah cara berpikirmu. Tuhan sudah menetapkan engkau di bangsa ini untuk satu tujuan. So, do the best in your job, loyal, jangan korupsi, itu sudah menolong untuk memperbaiki bangsa kita ini.

Itulah 7 hal yang tidak bisa kita ubah. Kalaupun ada yang kita bisa ubah, misalnya: bentuk fisik, itu akan membawa kita ke dalam situasi yang tidak pernah puas. Selalu ingin ubah penampilan terus. Capek kan? Terimalah dirimu apa adanya, seperti Tuhan menerimamu. Memang dunia melihat rupa, tapi Tuhan melihat hati. Apa yang kau lakukan setiap hari itu lebih penting dari penampilanmu. Bukan berarti kau bisa berpenampilan seenaknya, tidak!! Tapi engkau harus menerima apa yang sudah Tuhan berikan padamu. Kulitmu yang hitam (manis), hidungmu yang kurang mancung, rambut yang lurus, kurang tinggi, dll, dsb deh.


dudung.net

GHULUW

1. Secara bahasa, ghuluw berarti melampaui batas. Harga yang melampaui batas, dikatakan Ghala'. Martabat ataupun kedudukan yang melampaui hak disebut, Ghalw. Seluruhnya diambil dari kata Ghala - yaghluw.


2. Sedangkan Ghuluw dalam beragama berarti: melampaui apa yang dikehendaki syari'at, baik dalam keyakinan, maupun amalan.


3.Ada juga ulama yang mengatakan, "Ghuluw berarti melampaui batas dengan menambah-nambah dalam memuji sesuatu atau mencelanya sehingga melampaui apa yang menjadi haknya."



Allah ber firman,

Katakanlah: "Wahai Ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara ygn tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu memperturutkan hawa nafsi orang-orang yang telah sesar dan (karena) mereka telah menyesatkan banyak orang, dan merekapun tersesat dari jalan yang lurus." (Al Maidah: 99)

Ayat serupa ada dalam surat An Nisa: 171. Imam Al Qurthubi menegaskan Dengan ayat di atas, Allah mengharamkan sikap ghuluw di atas. Sedangkan ghuluw itu sendiri adalah melampaui batas. Dia mencontohkan, bahwa di antara bentuk ghuluw seperti sikap ghuluwnya orang-orang Yahudi terhadap Maryam binti Imran yang sampai - sampai menuduhnya berzinah. Sebaliknya juga sikap ghuluw-nya orang-orang Nashrani terhadap dia (Maryam) sehingga menganggapnya sebagai Tuhan.

Ibnu Katsir menambahkan Banyak golongan lain yang menuruti jejak orang-orang Nashrani tersebut. Di mana mereka bersikap ghuluw terhadap pemimpin-pemimpin yang dianggap berkompeten dalam urusan agamanya, yang kemudian mereka yakini sebagai yang ma'shum.

Omongan merekapun diikuti, baik itu benar maupun salah, baik berpedoman (pada yang haq) maupun yang sesat, baik jujur maupun dusta!

Sementara dalam hadits Ibnu Abbas disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda, Wahai manusia, waspadalah kamu sekalian terhadap ghuluw di dalam Islam. Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kamu hanyalah sikap ghuluw dalam agama mereka.


Beberapa Nama Lain Ghuluw

Dalam hadits-hadits juga banyak diriwayatkan peringatan serupa, dengan lafadz yang memiliki pengertian serupa dengan ghuluw. Diantaranya :


1. At Tanatthu' (keras tidak karu-karuan)
Rasulullah pernah bersabda :
Binasalah mereka yang bersikap tanatthu', binasalah mereka yang bersikap tanatthu', binasalah mereka yang bersikap tanatthu'
Imam Nawawi menyatakan, "Tanatthu' berarti melampaui batas." Dalam perny ataan beliau lainnya, "Tanatthu' berarti sikap keras tidak karu-karuan yang tidak pada tempatnya."

2. Tasyaddud (Menyusah-nyusahkan Urusan)
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda,
Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidak ada orang yang membuatnya susah, melainkan dirinya pasti kalah (tidak mampu melakukannya). Maka berjalanlah lurus, dekatkan diri kepada Alah, dan terimalah kabar
gembira. Mintalah pertolongan pada waktu pagi dan petang serta sedikit waktu malam (untuk beribadah).

Dan sabda Nabi: Agama yang paling disukai Allah adalah yang lurus dan ringan.

Syaikh Nashiruddin Ahmad bin Muhammad al Iskandari berkata, Disebutkan disitu "sedikit waktu malam", karena beribadah dimalam hari itu berat. Maka disunnahkan mempergunakan sedikit waktunya.

Lalu Syaikh Shalahuddien Maqbul Ahmad dalam komentarnya terhadap kitab tersebut menyatakan,
"Beliau (Imam Bukhari) hendak menyatakan bahwa yang utama bagi orang yang beramal itu untuk tidak usah memaksa diri, sehingga malah letih dan berhenti beramal. Namun hendaknya ia beramal perlahan - lahan secara bertahap agar amalannya berlangsung terus dan tidak terputus."

3. Al 'Itida' (Melangkahi Ketentuan Syari'at)
Rasulullah bersabda,
"Sesungguhnya Allah telah menetapkan kewajiban-kewajiban, janganlah kalian melalaikannya, menetapkan hal-hal yang haram, janganlah kalian melakukannya. Allahpun telah menetapkan batasan, maka janganlah
kalian melangkahinya ..."
Allah berfi rman,
Itulah batasan-batasan hukum Allah (larangan), maka janganlah kalian mendekatinya. (Al Baqarah: 187)
Ibnu Taimiyah berkomentar, "Ini adalah awal perbuatan haram." Artinya, kita harus memelihara diri agar tidak mendekati yang haram, dan mencukupkan diri dengan yang halal.
Allah berfi rman,
Itulah hukum-hukum Allah, janganlah kalian melanggarnya. (Al Baqarah : 229)
Ibnu Taimiyah berkata, "Inilah akhir perbuatan halal." Artinya, kita harus memelihara diri dalam melakukan tindakan yang asalnya adalah halal. Karena apabila kita melampaui batas, ia menjadi haram, atau menjerumuskan kita kepada yang haram, dan inilah perbuatan I'tida'. Wal 'iyadzu billah.

4. At Takalluf (Memaksakan Diri)
Dari Umar ia berkata, "Kami dilarang untuk bersikap Takalluf (memaksa / membebani diri)."

Hadits ini berderajat marfu' (disamakan dengan ucapan Nabi), karena ucapan Umar, "Kami dilarang..." Sedangkan yang melarang para sahabat di sini sudah tentu Rasulullah, sebagaimana disebut dalam kitab-kitab Musthalah

Syaikh Salim al Hilali berkomentar, (Hadits ini menunjukkan) dilarangnya banyak bertanya, bersikap keras dan memaksa diri untuk hal yang tidak perlu.


Penyebab Ghuluw


1. Kebodohan dalam masalah dien yang meliputi :

a) Kebodohan akan tujuan-tujuan syari'at, diantaranya membeli jalan kemudahan bagi pemeluknya dan lain-lain.

b) Kebodohan akan batasan syari'at, mana yang halal, mana yang haram, mana yang wajib, mana yang mubah dan lain sebagainya.

c) Kebodohan dalam memahami nash-nash Kitab dan Sunnah.
2. Memperturutkan hawa nafsu

Allah ber firrman,

Tetapi orang-orang yang zhalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun. (ar- Rum: 29)

Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu pengetahuan. Sesungguhnya Rabb-mu, Dialah yang lebih mengetahui orang - orang yang melampaui batas. (al An'am: 119)

Ini (hawa nafsu) termasuk penyebab terbesar munculnya sikap ghuluw, karena akibat hawa nafsulah banyak di antara manusia yang akhirnya menakar kebenaran itu dengan timbangan akal dan perasaan.
3. Bersandar kepada hadits-hadits lemah dan palsu

Hadits-hadits palsu, umumnya dibuat oleh segelintir orang yang tidak bertanggung jawab, demi memperturutkan ambisi dirinya membela golongan yang sesat. Atau untuk tujuan duniawi, atau untuk menggaet orang agar gandrung ibadah, atau memang sengaja membuat sensasi. Kesemuanya itu adalah sikap ghuluw alias melampaui batas.

Ibnu Abi al Hadid, seorang yang berpemahaman Mu'tazilah yang juga mantan penganut Syi'ah pernah menyatakan, Ketahuilah, bahwa asal segala kebohongan dalam wujud hadits-hadits (palsu) dalam bab keutamaan adalah propaganda Syi'ah. Pada mulanya, mereka sengaja membuat hadits-hadits palsu berkenaan dengan keutamaan sahabat mereka (Ali), yang didorong oleh rasa permusuhan mereka terhadap seteru beliau (Mu'awiyah dan lain-lain -red.)
4. Mengikuti sisa-sisa ajaran agama sebelum Islam

Sikap ghuluw kadang juga lahir akibat interaksi pemeluk Islam dengan sisa-sisa pemahaman animisme, dinamisme, paganisme, dan sejenisnya. Seperti yang banyak dalam kebudayaan suku-suku di Indonesia. Herannya, masih ada juga yang tega melabelkan Islam pada adat budaya yang jelas berbeda dengan sendi syari'at yang paling dasar sekalipun.

Adakalanya juga, sikap ghuluw itu muncul akibat pengaruh tidak langsung dari agama-agama samawi seperti Yahudi dan Nashrani yang -tentunya- sebelumnya sudah terbaluri dengan pemahaman syirik yang menjadi tradisi dan sulit berubah. Semacam trinitas dan yang lainnya.

Namun adakalanya juga sikap ghuluw itu memang sengaja disusupi oleh oknum diluar Islam yang berkedok sebagai Muslim -seperti Abdullah bin Saba'- untuk merombak keutuhan ajaran Islam dari dalam. Seperti halnya yang dilakukan oleh Souqhougronye penjajah Belanda di Aceh tempo dulu.

Dan ada juga sikap ghuluw itu datang dari sikap membabi buta yang muncul dari orang-orang yang memiliki ambisai pribadi di kalangan umat Islam antara lain ambisi duniawi; memaksakan pemahaman sesat yang dimilikinya; atau mungkin juga untuk meraih prestise melalui sensasi.





Sebagai penutup, marilah kita menyadarkan diri, bahwa perjalanan dakwah kerap kali diusik oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mencoba mengeruhkan kemurnian ajaran Islam segala model kerancuan.


Macam - Macam Ghuluw





1. Ghuluw dalam Aqidah
2. Ghuluw Dalam Amalan
3. Ghuluw dalam Bentuk-bentuk Lain

Ghuluw dalam Aqidah



Ghuluw dalam aqidah adalah seperti ghuluw-nya orang-orang Nashrani dengan keyakinan trinitasnya. Seperti juga ghuluw-nya orang-orang syi'ah / Ra fidhah yang meninggikan derajat Ali sampai sebagian di antaranya menganggapnya lebih baik dari Abu Bakar, Umar dan Utsman. Sebagian lagi bahkan menganggapnya lebih baik dari Rasulullah, wal 'iyadzu billah. Lebih dari itu, sebagian orang syi'ah bahkan menganggap Ali sebagai titisan Allah.

Contoh lainnya adalah ghuluw-nya orang-orang su fi yang menganggap suci para pemimpinnya yang dianggap tak mungkin keliru. Tak jarang, pelanggaran syari'at yang dilakukan para pemimpin itu, sampai pada batas dosa-dosa besar, yang kemudian justru dianggap sebagai tanda-tanda ke-keramatan-nya.

Ghuluw yang meliputi kultus individu seperti di atas, juga banyak merambati golongan non tasawuf. Dalam hal ini,

Syaikh Bakar Abu Zaid mengingatkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menegaskan bahwa barangsiapa yang menetapkan seseorang -siapapun orangnya- untuk ditaati, sehingga ia berwala (loyal) atau bermusuhan dengan seseorang untuk menyetujui pendapat orang itu, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, maka ia termasuk kelompok orang-orang yang memecah belah dien mereka.

Sedangkan mereka (dengan perbuatan itu) menjadi bergolong-golongan.

Lalu Syaikh Bakar Abu Zaid berkomentar, Manhaj dakwah semacam ini (yang akhirnya bergolong-golongan) tak pantas dijadikan asas perubahan bagi ummat dan menyatukan barisan mereka.

Syaikh Ali Hasan (murid syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani) juga pernah menyatakan,

Oleh sebab itu, Islam tidak mengenal adanya orang yang dinamakan "orang agama", yaitu istilah buat orang alim yang suka mengibuli massa dengan ilmunya, suka membagi-bagikan surat pengampunan dosa, serta (merasa) memiliki hak untuk menghalalkan dan mengharamkan.

Namun yang dikenal Islam adalah "orang alim dalam agama", yang bertugas mengajarkan hukum-hukum Allah kepada orang awam yang masih belum mengerti. Dengan hujjah yang jelas, tanpa memaksa mereka mengikuti pendapatnya, kecuali dengan dalil yang terang dari Kitab, Sunnah, ataupun Ijma' / konsensus yang disepakati para ulama'"
Ghuluw Dalam Amalan

Ibnu Taimiyah pernah menyatakan, at Tasydid (bersikap melampaui batas), terkadang berwujud menjadikan perkara yang tidak wajib atau pun sunnah, menjadi wajib atau disunnahkan. Terkadang juga dalam bentuk menjadikan perkara yang mubah menjadi makruh ataupun haram.

Ibnul Qayyim berkata, Ghuluw (dalam amalan) memiliki dua bentuk:

a) Yang dapat mengeluarkan seseorang dari ketaatan. Seperti menambah - nambah rakaat dalam shalat, atau puasa setiap hari termasuk di hari yang diharamkan, puasa tanpa henti, ataupun melempar jumrah dengan batu-batu besar, dan lain-lain.

b) Yang dikahawatirkan dapat menyebabkan kebosanan. Saperti puasa setiap hari -tapi tidak termasuk hari-hari yang diharamkan puasa, shalat sepanjang malam dan lain sebagainya. Nabi telah banyak memperingatkan sahabatnya terhadap perbuatan-perbuatan semacam itu. Seperti Abdullah bin Amr bin'Ash, Abu Darda dan lain-lain.
Ghuluw dalam Bentuk-bentuk Lain

Sikap ghuluw, juga kerap menghinggapi seorang Musilm dalam menggunakan akal, sehingga menjadikan akal tersebut sebagai barometer kebenaran. Seperti halnya kalangan rasionalis.

Adakalanya sikap ghuluw juga membaluti antipati seorang Muslim terhadap orang - orang kafi r. Sehingga tidak jarang menyikapi mereka dengan kasar dan tidak pada tempatnya, atau menyerobot apa yang menjadi hak mereka sebagai manusia.

Sikap ghuluw juga kerap hadir dalam pentas dakwah, pentas amar ma'ruf nahi mungkar, sehingga seringkali tanpa batasan syari'at, atau menabrak etika dan adab yang menjadi roh dakwah dan metodologi samawi (dari Allah) yang dipraktekkan Nabi.

Padahal, ungkapan keras, meski sudah pada tempatnya sekalipun, tetap harus dipilih mana yang paling beradab, apalagi bila ditujukan kepada kaum Muslimin.

Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah bersabda, Janganlah seorang di antara kamu mengatakan kepada dirinya sendiri "khobutsat nafsi" (sungguh jahat diriku). Namun hendaknya dia mengatakan "laqisat nafsi" (artinya kira-kira: "buruk sekali diriku ini")"

Imam An Nawawi berkata, Para ulama menyatakan bahwa arti "khobutsat" dan "laqitsat" sebenarnya sama. Akan tetapi Nabi tidak menyukai lafadz "khobutsat" (karena kasar).

Sementara Syaikh Salim Al Hilali sendiri berkomentar, Dilarang mempergunakan lafadz-lafadz kotor dalam menyifati kondisi kaum Muslimin. Dianjurkan juga memelihara adab dalam ucapan terhadap segala sesuatu (juga semua orang), termasuk terhadap diri sendiri.

Selain itu dianjurkan menghindari ungkapan yang jelek dan lafadz yang buruk dalam segala kondisi.

Awal Mula Adzan

( Riwayat : Anas r.a; Abu Dawud; Al Bukhari )

Seiring dengan berlalunya waktu, para pemeluk agama Islam yang semula sedikit, bukannya semakin surut jumlahnya. Betapa hebatnya perjuangan yang harus dihadapi untuk menegakkan syiar agama ini tidak membuatnya musnah. Kebenaran memang tidak dapat dmusnahkan. Semakin hari semakin bertambah banyak saja orang-orang yang menjadi penganutnya.

Demikian pula dengan penduduk dikota Madinah, yang merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam pada masa-masa awalnya. Sudah sebagian tersebar dari penduduk yang ada dikota itu sudah menerima Islam sebagai agamanya.

Ketika orang-orang Islam masih sedikit jumlahnya, tidaklah sulit bagi mereka untuk bisa berkumpul bersama-sama untuk menunaikan sholat berjama`ah. Kini, hal itu tidak mudah lagi mengingat setiap penduduk tentu mempunyai ragam kesibukan yang tidak sama. Kesibukan yang tinggi pada setiap orang tentu mempunyai potensi terhadap kealpaan ataupun kelalaian pada masing-masing orang untuk menunaikan sholat pada waktunya.

Dan tentunya, kalau hal ini dapat terjadi dan kemudian terus-menerus berulang, maka bisa dipikirkan bagaimana jadinya para pemeluk Islam. Ini adalah satu persoalan yang cukup berat yang perlu segera dicarikan jalan keluarnya.

Pada masa itu, memang belum ada cara yang tepat untuk memanggil orang sholat. Orang-orang biasanya berkumpul dimasjid masing-masing menurut waktu dan kesempatan yang dimilikinya. Bila sudah banyak terkumpul orang, barulah sholat jama`ah dimulai.

Atas timbulnya dinamika pemikiran diatas, maka timbul kebutuhan untuk mencari suatu cara yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengingatkan dan memanggil orang-orang untuk sholat tepat pada waktunya tiba. Ada banyak pemikiran yang diusulkan. Ada sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktu sholat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan mudah melihat ketempat itu, atau setidak-tidaknya asapnya bisa dilihat orang walaupun ia berada ditempat yang jauh. Ada yang menyarankan untuk membunyikan lonceng. Ada juga yang mengusulkan untuk meniup tanduk kambing. Pendeknya ada banyak saran yang timbul.

Saran-saran diatas memang cukup representatif. Tapi banyak sahabat juga yang kurang setuju bahkan ada yang terang-terangan menolaknya. Alasannya sederhana saja : itu adalah cara-cara lama yang biasanya telah dipraktekkan oleh kaum Yahudi. Rupanya banyak sahabat yang mengkhawatirkan image yang bisa timbul bila cara-cara dari kaum kafir digunakan. Maka disepakatilah untuk mencari cara-cara lain.

Lantas, ada usul dari Umar r.a jikalau ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk sholat pada setiap masuknya waktu sholat. Saran ini agaknya bisa diterima oleh semua orang, Rasulullah SAW juga menyetujuinya. Sekarang yang menjadi persoalan bagaimana itu bisa dilakukan ?

Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid r.a meriwayatkan sbb : “Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk sholat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja.

Orang tersebut malah bertanya,” Untuk apa ?

Aku menjawabnya,”Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan sholat.”

Orang itu berkata lagi,”Maukah kau kuajari cara yang lebih baik ?”

Dan aku menjawab ” Ya !”

Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang ,” Allahu Akbar,…Allahu Akbar…..”

Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perihal mimpi itu kepada beliau. Dan beliau berkata,”Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.” Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal.”

Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar r.a, ia juga menceritakannya kepada Rasulullah SAW . Nabi SAW bersyukur kepada Allah SWT atas semua ini.




http://bilikzaki.wordpress.com/2009/04/25/awal-mula-azan/